'Guru Ngaji': Toleransi yang Tidak Dibatasi



...

JAKARTA, Indonesia — Dalam rangka merayakan Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret mendatang, sejumlah film Indonesia siap hadir berpartisipasi merayakan hari tersebut. Film-film Indonesia juga hadir dalam beragam genre dan pastinya perkembangan industri film semakin meningkat dilihat dari banyaknya jumlah penonton yang selalu meningkat serta kualitas film yang tidak dipandang sebelah mata.

Guru Ngaji juga tidak mau ketinggalan dalam berkontribusi. Film yang akan tayang pada tanggal 22 Maret 2018 mendatang ini disutradarai oleh Erwin Arnada yang sebelumnya menyutradarai Nini Thowok yang rili di awal bulan ini. Selain itu, film produksi Chanex Ridhall Pictures  ini melibatkan sejumlah aktor dan aktris kawakan yang sudah tidak diragukan kemampuan aktingnya.

Donny Damara sebagai Mukri, Ence Bagus sebagai Parmin, Dodit Mulyanto sebagai Yanto, Verdi Solaiman sebagai Koh Alung, Dewi Irawan sebagai Sophia, Tarzan sebagai Pak Kepala Desa, Andania Suri sebagai Rahma, serta pemain pendatang baru, Akinza Chavelier sebagai Ismail hadir menjadi jajaran pemain utama di film Guru Ngaji.

Saat gelaran press conference film Guru Ngaji di Epicentrum XXI, Rabu, 14 Maret, Rosa Rai Djalal selaku produser mengatakan film ini sudah digagas sejak November 2016 berawal dari melihat keadaan guru mengaji di Indonesia yang memiliki banyak pekerjaan dan kebanyakan bekerja tanpa meminta imbalan. Produser yang juga sebelumnya sukses dengan film Bukaan 8 ini berharap film Guru Ngaji bisa menjadi apresiasi kepada seluruh guru mengaji di Indonesia.

'Guru Ngaji': Toleransi yang Tidak DibatasiPRESS CONFERENCE. Para pemain dan produser film 'Guru Ngaji' saat press conference Rabu, 14 Maret di Epicentrum XXI. Foto oleh Tarida Angelina/Rappler

Para pemain juga turut senang bisa terlibat dalam film ini. Donny Damara yang memerankan Mukri mengaku berperan menjadi badut adalah pengalaman baru. Dirinya bersama Ence Bagus dan Verdi Solaiman harus mengikuti workshop selama 2 bulan sebelum memulai syuting. Untuk Donny sendiri, Ia memiliki double agent yang menggantikan dirinya dalam salah satu adegan.

"Ada adegan badut memakai roda satu itu menurut saya scene paling susah. Bahkan yang bekerja sebagai badut aslinya bilang rata-rata 6 bulan berlatih (memakai roda satu) baru bisa jalan lurus," jelas Donny saatpress conference.

Secara keseluruhan, film Guru Ngaji memberikan pandangan mengenai toleransi beragama di Indonesia. Pluralisme agama yang ada di Indonesia agar warga Indonesia bisa merangkul siapa saja tanpa melihat dari mana agamanya, rasnya, atau sukunya.

Ringkasan cerita

Mukri (Donny Damara) adalah seorang guru mengaji di Desa Tempuran yang dikenal selalu mengajar tanpa mengharapkan imbalan secara materi. Tanpa diketahui sang istri, Sophia (Dewi Irawan) dan anaknya Ismail (Akinza Chavelier), Mukri memiliki pekerjaan sampingan sebagai badut di pasar malam yang dimiliki oleh Koh Alung (Verdi Solaiman). Sehari-harinya Mukri bekerja sebagai badut bersama rekannya, Parmin (Ence Bagus).

Parmin juga menjadi badut demi meraih impiannya. Parmin yang menyukai Rahma (Andania Suri) harus dihadapkan dengan Yanto (Dodit Mulyanto) pemuda lain yang juga naksir kepada Rahma dan selalu berhasil satu langkah lebih dulu dalam mengajak Rahma pergi. Selain itu, Yanto juga meremehkan pekerjaan Parmin yang setiap malam Parmin lakukan bersama Mukri.

Merahasiakan pekerjaan sampingannya sebagai badut, Mukri merasa bingung. Pekerjaan sebagai guru mengaji adalah pekerjaan yang terhormat tetapi di satu sisi, pekerjaan badut adalah pekerjaan yang hanya membuat orang tertawa. Dirinya juga membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan keluarganya yang pas-pasan. Rahasia pekerjaan sampingan itulah yang disimpannya rapat-rapat dari keluarga dan juga warga Desa Tempuran.

Sumber : https://rappler.idntimes.com/




© 2018 Guru Ngaji dan Badut Maksimal. All rights reserved , Powered By nanangkristanto.com